Berita

Berbagi berita terkini seputar dunia

Cerita

Berbagi cerita unik, menarik, dan inspiratif

Pengetahuan

Berbagi pengetahuan
 

ABK SERING TANTRUM, INILAH SEJUMLAH PERMASALAHAN LAIN YANG DIALAMI PENGAJAR ABK DI MASA PANDEMI

 

Ilustrasi Anak Berkebutuhan Khusus (Google, 17/11/2020)

Kondisi yang belum juga membaik membuat hampir seluruh sekolah di Indonesia tidak bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka. Selama ini yang selalu disoroti adalah pembelajaran daring di sekolah-sekolah umum. Namun, pernahkan muncul pertanyaan di benak kita, bagaimana kondisi anak berkebutuhan khusus (ABK) di tengah pandemi? Tidak hanya anak-anak normal, anak berkebutuhan khusus juga harus tetap meneruskan pembelajarannya dalam situasi seperti ini.

Anak-anak istimewa ini tentu memiliki kendala tersendiri. Jika anak-anak normal sudah mulai terbiasa melakukan pembelajaran daring, ABK justru sangat tidak direkomendasikan untuk melakukan pembelajaran secara daring. Kebijakan mengenai pembelajaran daring bagi anak berkebutuhan khusus perlu diperjelas dalam program pendidikan inklusif di Indonesia. “Memang  berkebutuhan khusus ini sama sekali tidak direkomendasikan untuk belajar daring ya. Karena mereka butuh pemahaman, butuh penjelasan yang konkret langsung dari gurunya. Jadi cara belajarnya pun harus disampaikan secara langsung.” Ujar Alma, guru pendamping ABK (16/11/20).

Dirasa ABK tidak efektif diajarkan secara daring, beberapa SLB memilih tetap melakukan pembelajaran secara luring. Kendati demikian, bukan lagi peserta didik yang datang ke sekolah, tetapi guru lah yang mendatangi rumah tiap peserta didik. Contohnya Alma, dia harus datang mengajar ke rumah 5 peserta didiknya. Satu hari bisa dua hingga tiga kali dirinya menyambangi rumah peserta didik, “Saya ngajar 5 murid. Keke, Rasya,  Leysa, Kimi, dan Saka. Jadi saya satu hari itu dua sampai tiga kali ke rumah siswa”. Meski harus berpindah-pindah tempat, Alma yang juga masih merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Biasa itu, mengaku tetap senang melakukan pekerjaannya.

 Sistem belajar di rumah ini tentu saja membuat banyak orang tua merasa kewalahan untuk mendampingi anaknya. Karena itu, banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya ke lembaga pendidikan pendampingan khusus bagi anak berkebutuhan khusus, salah satu lembaga itu adalah Rumah Bintang yang berada di Bandung. “Karena kewalahan mendampingi ABK belajar akdemik di rumah. Akhirnya banyak orang tua yang dari kalangan mampu, mendaftarkan anaknya di suatu lembaga pendampingan.” Ungkap Alma, salah satu guru pendamping di Rumah Bintang.

Sebagai guru pendamping, sejumlah kesulitan juga di alami oleh Alma saat mengajar ABK dalam situasi pandemi. Pertama, adanya kesalahan komunikasi antara guru sekolah, orang tua peserta didik, dan guru pendamping. Guru sekolah lebih banyak menekankan kemampuan akademik ABK, sedangkan menurut Alma hal ini justru membuat si anak terbebani. “Guru sekolahnya itu tidak paham kalau anak itu dikasih tugas terus sampai orang tuanya keteteran. Saya sebagai pendamping khusus juga keteteran.” Alma yang sudah 2,5 tahun menjadi guru pendamping khusus ini mengaku keberatan jika anak dampingannya ini diberikan banyak tugas akademik. Menurutnya kemampuan kognitif ABK yang bisa dikatakan pas-pasan, harus dioptimalkan secara baik. Sehingga, tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mengajarkan siswa untuk learning by doing. Untuk itu, Alma sebagai guru pendamping menyiapkan suatu kurikulum yang dinamakan kurikulum darurat. Kurikulum darurat ini adalah kurikulum yang berisi tugas atau tahapan mengenai progres yang anak harus capai selama belajar di rumah. “Bukan secara akademik, tapi kurikulum darurat ini lebih mengasah practic life si anak,” ungkap Alma saat diwawancarai via Whatsapp. Kurikulum darurat ini membantu ABK agar dapat melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa bantuan orang lain,  seperti anak mampu membersihkan rumah, mencuci piring, mengucapkan kalimat minta maaf, tolong, terima kasih, dsb. Lebih lanjut Alma mengungkapkan bahwa kurikulum darurat ini semacam program bina diri yang dilakukan di rumah.

Kedua, selain kendala komunikasi antara banyak pihak, pembelajaran saat pandemi juga membuat anak berkebutuhan khusus lebih sering mengalami tantrum. Dikutip dari lama Alodokter.com, Tantrum adalah keadaan ketika anak meluapkan emosinya dengan cara menangis kencang, berguling-guling di lantai, hingga melempar barang. “Sebelum pandemi biasanya anak itu tantrum hanya di saat-saat tertentu saja. Tapi kalau sekarang itu luar biasa, ya ampun, setiap hari itu ada saja yang tantrum, nangis-nangis. Ada saja dramanya. Anak kesulitan banget.”  Alma menjelaskan bahwa tantrum ini dapat terjadi karena siswa merasa kesepian, sebab tidak ada teman sebaya yang dapat diajak untuk bermain bersama.

Alma menegaskan bahwa pembelajaran daring bagi anak berkebutuhan khusus ini harus dipertimbangkan kembali, sebab pembelajarn daring tidak efektif dan tidak direkomendasikan. Dia berharap, khususnya untuk ABK yang memang terlahir dari keluarga kurang mampu, agar lebih mengasah keterampilan vokasionalnya di masa pandemi ini. Supaya ABK punya bekal keterampilan untuk bertahan hidup dan keterampilannya nanti bisa bernilai jual. Sehingga ABK sedikitnya mampu secara finansial dan terlepas sedikit demi sedikit dari bantuan orang  di sekitarnya.

INFOGRAFIS


(Shindy Tresna Vinansih/ A310170092)