Berita

Berbagi berita terkini seputar dunia

Cerita

Berbagi cerita unik, menarik, dan inspiratif

Pengetahuan

Berbagi pengetahuan
 

SEMUDAH ITU KAH INDONESIA MENJADI TEMPAT BERLIBUR WNA SAAT PANDEMI?


(Bali sebagai destinasi wisata. Sumber: https://www.timeout.com/ Photograph: Shutterstock)

Awal tahun 2021 ini, warganet Twitter rama-ramai mengecam seorang warga negara asing bernama Kristen Gray. Kejadian ini bukan tanpa sebab,  pada 16 Januari 2021 Kristen Gray menulis utas yang sebagian besar bercerita mengenai bagaimana dirinya dan pacarnya dapat tinggal dan hidup di Bali dengan mudah. Utas ini di awali dengan cerita dirinya yang berjuang mencari pekerjaan di Amerika sepanjang tahun 2019, hingga akhirnya pada Maret 2020 memutuskan untuk pindah ke Bali. Dalam utasnya pula, Kristen Gray ini membeberkan mengapa Bali menjadi pilihannya. Dia merasa bahwa biaya hidup di Bali jauh lebih rendah di banding Amerika sehingga para WNA dapat memiliki gaya hidup mewah, keamanan yang baik di Bali terhadap komunitas orang kulit hitam, dan Bali merupakan daerah yang ramah terhadap LGBT.


Lantas dari kisah di atas apa yang menjadi permasalahan?


Dalam utasnya, Kritsen Gray yang bekerja sebagai digital nomad, membagikan cara bagi warga negara asing yang ingin berkunjung dan tinggal di Bali dengan mudah saat situasi Pandemi. Dia menjual buku digital yang berjudul Our Bali Life is Yours seharga 30$. Dalam buku digital tersebut Gray juga menyertakan agen perjalana yang dapat membantu mereka serta membuka jasa konsultasi seharga $50/45 menit bagi WNA yang ingin masuk ke Bali di masa pandemi. Dalam konteks ini, secara tidak langsung Kristen Gray ‘memancing’ WNA lain untuk datang ke Indonesia saat situasi pandemi.


(Foto: Buku digital yang dijual Kristen Gray. Sumber: akun twitter @./rizkidwika)

Jika dicermati, Indonesia sudah menetapkan peraturan mengenai kunjungan Warga Negara Asing saat pandemi. Melalui Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor 11 Tahun 2020, pemerintah melarang sementara orang asing untuk memasuki/transit di wilayah Indonesia dengan beberapa pengecualian. Sehingga Utas Kristen Gray pada bulan Januari 2021 yang seakan-akan mengajak WNA lain untuk sengaja berkunjung ke Bali tanpa kepentingan adalah hal yang tidak dapat dibenarkan. Sebab saat ini, jumlah kasus covid-19 terus meningkat, sehingga kunjungan dari para WNA yang tidak berkepentingan atau hanya ingin berlibur seharusnya dapat ditunda.


Dalam buku digital yang dijual oleh Kristen Gray juga membicarakan mengenai cara menghindari aturan dan protokol kesehatan di Bali. Selama pandemi ini, banyak sekali kasus yang menyoroti kelakuan oknum WNA yang tidak menggunakan masker bahkan berkerumun untuk mengadakan pesta di pantai atau di hotel. Dikutip melalui kompas, Kepala Satpol PP Kabupaten Badung Kasatpol PP Badung, Bali, I Gusti Agung Ketut Suryanegara mencatat, dari 11 hingga 18 Januari terdapat 71 warga negara asing yang terjaring satgas karena melanggar prokes. Hal ini jelas diperlukan sikap nyata dari pemerintah. Tidak hanya sekadar himbauan dan sanksi administratif saja, namun pemerintah bisa menerapkan sanksi yang lebih berat seperti deportasi bagi WNA yang terus enggan mematuhi protokol kesehatan.


Bertolak dari kisah Kristen Gray, terpikirkan apakah memang benar semudah itu WNA masuk ke Indonesia untuk berlibur saat situasi pandemi seperti ini? Sebenarnya sudah ada peraturan yang jelas, bahwa hanya ada beberapa kategori WNA yang dapat memasuki Indonesia. Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum HAM No 26 Tahun 2020 tertanggal 1 Oktober 2020, visa kunjungan hanya berlaku untuk beberapa kegiatan yang darurat dan esensial. Visa Kunjungan Satu Kali Perjalanan (B211A) yang biasanya dapat digunakan untuk wisata, kali ini hanya dapat diberikan untuk tugas resmi dalam bidang humanitarian, volunteer, bisnis, dan investasi. Sehingga WNA yang tidak memiliki kebutuhan penting seharusnya tidak dapat memasuki wilayah Indonesia. Imigrasi harus segara cepat menangani oknum-oknum seperti Kristen Gray yang menghasut WNA lain menggunakan visa abal-abal.


Mempromosikan Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata yang bagus bukan lah hal yang salah. Namun kita harus ingat pepatah When in Rome, do as the Romans do atau pepatah Indonesia ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Ketika bermukim atau berkunjung di suatu daerah, tentunya kita harus selalu menghormati kondisi adat, budaya, sosial maupun hukum yang ada. Ini berlaku pula bagi warga negara asing ketika datang di Indonesia. Gunakan visa yang sesuai dengan keperluan, bayar pajak jika memenuhi kriterianya, dan senantiasa mematuhi setiap hukum yang berlaku di negara ini.


Kasus Kristen Gray juga menjadi tamparan yang cukup keras bagi pemerintah terkait dengan penggunaan visa yang  tidak sesuai. Pemerintah harus terus menelusuri agen perjalanan yang secara tidak bertanggung jawab ikut membantu WNA mendapatkan visa ‘abal-abal’. Semoga ke depannya pemerintah bisa terus menaruh perhatian pada keberadaan orang-orang asing yang masuk dan bermukim di Indonesia agar mereka tetap menjalankan seluruh peraturan terkait dengan keiimigrasian. Selain itu, penerapan protokol kesehatan juga harus tetap ditegakkan, tidak hanya untuk warga negara Indonesia, tetapi juga untuk warga negara asing.


                                           Penulis: Shindy Tresna Vinansih (A310170092)


Sumber kutipan:

https://denpasar.kompas.com/read/2021/01/19/13125271/imigrasi-bali-ancam-deportasi-wna-yang-terus-langgar-protokol-kesehatan

https://www.imigrasi.go.id/covid19  

 


Fanatisme dan Cyber Bullying di Kalangan Kpopers


Kisruh karena rebutan gebetan atau pacar mungkin sudah sering terjadi. Namun pernahkah mendengar kasus orang ribut karena nama kesayangan? Kisah ini terjadi antar fans Lee Taeyong, member boy grup NCT dengan fans tiktokers Indonesia, Jason William. Kisah ini bermula saat fans Jason memanggil dirinya dengan sebutan bubu. Ternyata, jauh sebelum itu bubu sudah menjadi panggilan kesayangan bagi Taeyong. Video-video tiktok Jason yang dinilai cringe membuat fans NCT tidak terima jika panggilan kesayangan untuk idolnya digunakan pula pada Jason. Kisruh ini semakin meluas saat Jason menyikapi hal tersebut dengan mengatakan bahwa Taeyong tidak pernah menyapa fansnya dan kpopers hanya bisa halu dengan memandangi poster idolnya. Sontak, api yang sudah menyala justru membara kian besar. Fans Taeyong pun menuntut klarifikasi atas pernyataan Jason tersebut.


Fanatisme fans terhadap idola tidak hanya dimiliki oleh bobotoh kepada persib, kampret kepada Prabowo, namun juga dimiliki oleh kpopers terhadap idolnya. Dari kisah di atas, dapat dilihat bagaimana fanatiknya kpopers dalam membela idolnya, meskipun untuk permasalahan yang  terlihat sepele bagi masyarakat umum. Menurut Eliani, penulis di jurnal Jurnal Penelitian Psikologi, fanatisme merupakan sebuah keyakinan terhadap objek fanatik yang dikaitkan dengan sesuatu yang berlebihan pada suatu objek, sikap fanatik ini ditunjukkan dengan aktivitas, rasa antusias yang ekstrem, keterikatan emosi dan rasa cinta dan minat yang berlebihan yang berlangsung dalam waktu yang lama.


Cara kpopers dalam menunjukkan fanatisme ini sangat beragam. Mulai dari yang terkesan positif, hingga mengarah kepada aksi cyber bullying. Hal paling mendasar yang dilakukan oleh kpopers adalah menyimpan setiap foto terbaru dari idolnya. Bahkan jika kita melihat galeri ponsel para kpopers ini, foto idolnya terkadang lebih mendominasi dibanding foto-foto pribadi mereka. selain itu, kpopers bahkan rela menghabiskan uang untuk sang idol. Uang ini  biasanya digunakan kpopers untuk berburu merchandise, seperti lighstick, photocard, album, dll. Ada pula yang menghabiskan uang ratusan juta untuk proyek ulang tahun idolnya. Salah satu fans yang terkenal karena fanatisme dan royalitasnya adalah Sehun Bar, komunitas fans  Sehun (member exo) yang berasal dari China. Fanatisme ini terbukti saat Sehun melaksanakan ulang tahun ke-27, Sehun Bar mengadakan proyek besar seperti memasang interior bertemakan Sehun di peswat dan kereta di Guangzhou, China, hingga menyewa taman bermain Everland Park untuk disulap bertemakan wajah Oh Sehun.

(Salah satu bentuk fanatisme kpopers; proyek ultah mewah untuk sang idol. Sumber: Akun twitter @/Ohsehunbar)

Kendati banyak hal-hal yang terkesan positif dan wajar, fanatisme ini juga bisa menimbulkan gesekan antar fans. Dalam perkpopan terkenal istilah fanwar (perang antar fandom), fanwar ini tak jarang berujung pada tindakan cyber bullying. Biasanya fanwar terjadi ketika satu fandom merasa idolnya lebih baik, kemudian menjelekkan idol lain. Kita sering mendengar ungkapan ‘orang yang kita sukai akan selalu tampak lebih baik dari orang lain’ hal ini lah yang terkadang memicu perang antar fandom, padahal setiap idol memiliki ciri khas masing-masing yang tidak dapat dibandingkan dengan idol lain. Tidak hanya antar fans, cyber bullying juga kerap dialami oleh para idol itu sendiri.


Berdasarkan hasil pengamatan, ada beberapa hal yang dapat memicu fans membully idol. Pertama, idol diberitakan berpacaran atau menjalin cinta dengan idol lain atau non-idol. fanatisme yang berlebih terkadang membuat fans merasa bahwa idol adalah milik mereka seutuhnya, sehingga mereka akan sangat marah dan kecewa jika idol ini berpacaran. Dalam dunia kpop orang-orang ini mendapat julukan penganut BIM (Bias is mine). Selain itu, fans kpop terkenal dengan seringnya menjodoh-jodohkan idol A dengan idol B, jadi ketika idol A berpacaran dengan idol lain, beberapa fansnya akan membully pasangan si idol. Kedua, kesalahan idol di masa lalu saat sebelum debut. Sebelum menjadi idol, mereka adalah orang biasa yang terpilih untuk training di suatu agensi dalam kurun waktu tertentu. Kebanyakan dari idol ini sudah melakukan training sejak remaja bahkan anak-anak. Dikutip berdasarkan jurnal Konseling Religi, salah satu fase yang dialami remaja adalah perkembangan emosi (psikis atau mental yang mudah berubah-ubah/emosi tidak stabil) sehingga terkadang masih sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ketiga, terpancing oleh berita burung. Terkadang ada beberapa media masa yang merilis berita belum jelas kebenarannya, Kpopers yang umumnya remaja ini gampang tersulut dengan berita-berita tersebut, sehingga tanpa berpikir panjang langsung menyerang sang idol yang diberitakan dengan komentar kebencian di sosial media.


Beberapa idol yang terkena cyber bullying berupa hate comment bahkan mengalami depresi. Salah satunya adalah Taeyeon, member grup perempuan SNSD itu akui dirinya depresi melalui unggahan di instagram. Taeyeon sering sekali mendapat ujaran kebencian di kolom komentar sosial medianya. Salah satu faktor adalah kabar hubungannya dengan idol lain pada tahun 2014. Oknum fans yang tidak setuju menyerang kolom komentar kedua idol tersebut dengan kata-kata yang tidak pantas hingga menyuruh mereka untuk mengakhiri hidupnya.


(Salah satu ujaran kebencian yang ditunjukan kepada Taeyeon. Sumber: Akun twitter @/kimtaeyonjpg)

Komentar jahat netizen juga dapat menjadi penyebab seseorang melakukan bunuh diri, kisah sedih ini terjadi pula pada teman dekat Taeyeon, Sulli, Mantan personel grup f(x). Sulli ditemukan meninggal di kediamannya pada 14 Oktober 2019. Diduga sebelum bunuh diri, Sulli mengalami depresi akibat cyber bullying yang  dialaminya di sosial media. Sulli mendapat hujatan karena pilihan berpakaian, pemikiran, dan percintaannya. Berbeda dengan sebagian besar idol yang tampil manis dan terkesan jaga image, Sulli justru salah satu idol yang blak-blakan dalam berpendapat.  Secara terbuka Sulli menceritakan perjuangannya menghadapi masalah cyber bullying yang berujung pada depresi dan masalah mental. Selain dua idol di atas, sebenarnya masih banyak sekali kisah-kisah menyedihkan idol yang harus depresi akibat cyber bullying yang dilakukan oleh warganet.


Menjalani kehidupan sebagai seorang idol tidak mudah. Mereka dihadapi tuntutan tinggi untuk menampilkan citra yang sempurna dan ideal dari berbagai pihak, mulai dari agensi hingga fansnya sendiri. Namun yang tetap harus digaris bawahi adalah idol juga manusia yang tidak sempurna. Tindakan cyber bullying akibat fanatisme fans yang berlebih ini justru akan menyakiti idol itu sendiri. Sejumlah agensi sempat mengambil tindakan terkait isu cyber bullying yang dialami oleh idolnya. Misalnya, SM Entertainment yang membentuk badan hukum khusus menindak para pelaku cyber bullying dan menerima laporan hate speech melalui email judicial@smtown.com. Selain SM Entertainment, JYP Entertainment juga mengambil tindakan hukum terkait ujaran kebencian dan ancaman online kepada artisnya.


Dalam menyalurkan rasa sukanya, kpopers harus selalu rasional dalam melakukan suatu tindakan, khususnya adalah saat bersosial media. Kemudian kpopers juga harus tahu prioritas dan kemampuan dirinya. Ada suatu kasus di mana seorang kpopers rela menipu teman kpopersnya karena ia butuh uang untuk membeli album sang idol. selain itu, sering terjadi pula mencaci dan menyalahkan satu sama lain karena dianggap tidak ikut voting dan streaming karya si idol. Inilah yang dimaksud kpopers harus tahu kapasitas dirinya dan orang lain baik dari segi finansial maupun waktu, sehingga tidak melakukan cara-cara buruk untuk dapat mendukung sang idol. dari semua itu, sebenarnya hal yang tak kalah penting adalah rasa toleransi dan menghargai antar fans. Tidak setuju terhadap sesuatu adalah hal biasa, namun yang harus dihindari adalah menggunakan kata-kata bermakna ujaran kebencian untuk menolak pendapat seseorang. Begitupun dalam dunia perkpopan.


Relasi yang sehat tidak hanya perlu dibangun antar fans, namun juga perlu dibangun antara fans dengan idolnya. Bagaimana cara membentuk relasi yang sehat dalam mengidolakan seseorang?

1.      Pahami dan tanamkan pada diri sendiri bahwa hubungan dengan idola hanya sebatas idol dan fans.

2.    Menghargai privasi idol dengan cara tidak mengganggu mereka saat di luar panggung dan ikut campur masalah percintaan, keluarga, dan lain sebagainya yang tidak berkaitan dengan kehidupan dia sebagai seorang idola.

3.      Mendukung bakat dan karya idola dengan tetap memperhatikan kapasitas diri

4.      Boleh kecewa terhadap idol, tapi jangan sampai mengarah pada tindakan cyber bullying

5.     Selalu ingat bahwa idol pun adalah manusia biasa yang terkadang tidak luput dari kesalahan dan tidak sesempurna image yang ditampilkan.


Kesehatan mental tidak kalah pentingnya dari kesehatan jasmani, untuk itu sebisa mungkin hindari tindakan-tindakan yang dapat mengganggu kesehatan mental diri sendiri maupun orang lain, misalnya fanatisme berlebih dan cyber bullying. ketika fanatisme sudah dirasa berlebihan dan malah membuat tertekan, rehat sejenak dari aktivitas itu. Sebab sejatinya Fangirling adalah sesuatu yang menyebabkan kebahagiaan, bukan menyebabkan kepusingan.  

                                                                                                     

                                                                               Penulis: Shindy Tresna Vinansih

 


ABK SERING TANTRUM, INILAH SEJUMLAH PERMASALAHAN LAIN YANG DIALAMI PENGAJAR ABK DI MASA PANDEMI

 

Ilustrasi Anak Berkebutuhan Khusus (Google, 17/11/2020)

Kondisi yang belum juga membaik membuat hampir seluruh sekolah di Indonesia tidak bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka. Selama ini yang selalu disoroti adalah pembelajaran daring di sekolah-sekolah umum. Namun, pernahkan muncul pertanyaan di benak kita, bagaimana kondisi anak berkebutuhan khusus (ABK) di tengah pandemi? Tidak hanya anak-anak normal, anak berkebutuhan khusus juga harus tetap meneruskan pembelajarannya dalam situasi seperti ini.

Anak-anak istimewa ini tentu memiliki kendala tersendiri. Jika anak-anak normal sudah mulai terbiasa melakukan pembelajaran daring, ABK justru sangat tidak direkomendasikan untuk melakukan pembelajaran secara daring. Kebijakan mengenai pembelajaran daring bagi anak berkebutuhan khusus perlu diperjelas dalam program pendidikan inklusif di Indonesia. “Memang  berkebutuhan khusus ini sama sekali tidak direkomendasikan untuk belajar daring ya. Karena mereka butuh pemahaman, butuh penjelasan yang konkret langsung dari gurunya. Jadi cara belajarnya pun harus disampaikan secara langsung.” Ujar Alma, guru pendamping ABK (16/11/20).

Dirasa ABK tidak efektif diajarkan secara daring, beberapa SLB memilih tetap melakukan pembelajaran secara luring. Kendati demikian, bukan lagi peserta didik yang datang ke sekolah, tetapi guru lah yang mendatangi rumah tiap peserta didik. Contohnya Alma, dia harus datang mengajar ke rumah 5 peserta didiknya. Satu hari bisa dua hingga tiga kali dirinya menyambangi rumah peserta didik, “Saya ngajar 5 murid. Keke, Rasya,  Leysa, Kimi, dan Saka. Jadi saya satu hari itu dua sampai tiga kali ke rumah siswa”. Meski harus berpindah-pindah tempat, Alma yang juga masih merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Biasa itu, mengaku tetap senang melakukan pekerjaannya.

 Sistem belajar di rumah ini tentu saja membuat banyak orang tua merasa kewalahan untuk mendampingi anaknya. Karena itu, banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya ke lembaga pendidikan pendampingan khusus bagi anak berkebutuhan khusus, salah satu lembaga itu adalah Rumah Bintang yang berada di Bandung. “Karena kewalahan mendampingi ABK belajar akdemik di rumah. Akhirnya banyak orang tua yang dari kalangan mampu, mendaftarkan anaknya di suatu lembaga pendampingan.” Ungkap Alma, salah satu guru pendamping di Rumah Bintang.

Sebagai guru pendamping, sejumlah kesulitan juga di alami oleh Alma saat mengajar ABK dalam situasi pandemi. Pertama, adanya kesalahan komunikasi antara guru sekolah, orang tua peserta didik, dan guru pendamping. Guru sekolah lebih banyak menekankan kemampuan akademik ABK, sedangkan menurut Alma hal ini justru membuat si anak terbebani. “Guru sekolahnya itu tidak paham kalau anak itu dikasih tugas terus sampai orang tuanya keteteran. Saya sebagai pendamping khusus juga keteteran.” Alma yang sudah 2,5 tahun menjadi guru pendamping khusus ini mengaku keberatan jika anak dampingannya ini diberikan banyak tugas akademik. Menurutnya kemampuan kognitif ABK yang bisa dikatakan pas-pasan, harus dioptimalkan secara baik. Sehingga, tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mengajarkan siswa untuk learning by doing. Untuk itu, Alma sebagai guru pendamping menyiapkan suatu kurikulum yang dinamakan kurikulum darurat. Kurikulum darurat ini adalah kurikulum yang berisi tugas atau tahapan mengenai progres yang anak harus capai selama belajar di rumah. “Bukan secara akademik, tapi kurikulum darurat ini lebih mengasah practic life si anak,” ungkap Alma saat diwawancarai via Whatsapp. Kurikulum darurat ini membantu ABK agar dapat melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa bantuan orang lain,  seperti anak mampu membersihkan rumah, mencuci piring, mengucapkan kalimat minta maaf, tolong, terima kasih, dsb. Lebih lanjut Alma mengungkapkan bahwa kurikulum darurat ini semacam program bina diri yang dilakukan di rumah.

Kedua, selain kendala komunikasi antara banyak pihak, pembelajaran saat pandemi juga membuat anak berkebutuhan khusus lebih sering mengalami tantrum. Dikutip dari lama Alodokter.com, Tantrum adalah keadaan ketika anak meluapkan emosinya dengan cara menangis kencang, berguling-guling di lantai, hingga melempar barang. “Sebelum pandemi biasanya anak itu tantrum hanya di saat-saat tertentu saja. Tapi kalau sekarang itu luar biasa, ya ampun, setiap hari itu ada saja yang tantrum, nangis-nangis. Ada saja dramanya. Anak kesulitan banget.”  Alma menjelaskan bahwa tantrum ini dapat terjadi karena siswa merasa kesepian, sebab tidak ada teman sebaya yang dapat diajak untuk bermain bersama.

Alma menegaskan bahwa pembelajaran daring bagi anak berkebutuhan khusus ini harus dipertimbangkan kembali, sebab pembelajarn daring tidak efektif dan tidak direkomendasikan. Dia berharap, khususnya untuk ABK yang memang terlahir dari keluarga kurang mampu, agar lebih mengasah keterampilan vokasionalnya di masa pandemi ini. Supaya ABK punya bekal keterampilan untuk bertahan hidup dan keterampilannya nanti bisa bernilai jual. Sehingga ABK sedikitnya mampu secara finansial dan terlepas sedikit demi sedikit dari bantuan orang  di sekitarnya.

INFOGRAFIS


(Shindy Tresna Vinansih/ A310170092)


TUTUP HINGGA NAIKKAN GAJI KARYAWAN, INILAH KISAH WARUNG MAKAN SAAT PANDEMI DI KAMPUS 1 UMS

 


Nasib Pemilik Warung di Sekitar UMS Selama Masa Pandemi

Pandemi covid-19 tidak hanya menghilangkan banyak nyawa, tetapi juga menghilangkan banyak mata pencaharian. Salah satu yang mengalaminya adalah pemilik warung makan. Mereka terpaksa mengurangi gaji karyawan, memecat karyawan hingga menutup warung makannya.

            Hal  ini di rasakan pula oleh sejumlah pemilik warung di kawasan kampus 1 UMS. Aseh (51), pemilik warung makan Salsa yang berada di Jl. Gatak III ini, awal masa pandemi warung nya masih berjualan, namun karena sepinya pelanggan, 7 bulan terakhir warung Salsa terpaksa tutup. Wanita bertubuh tambun ini bercerita mengenai kondisi warungnya, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, “Iya biasanya warung saya ramai sama mahasiswa, tapi sekarang ya mau gak mau harus tutup karena modalnya tidak ada untuk membeli bahan masakan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya (21/10/20). Warung makan ini menjadi penghasilan utama Aseh dan keluarganya. Namun karena pandemi, ekonomi Aseh hanya bertumpu pada penghasilan suaminya yang bekerja sebagai tukang tambal ban serta anaknya yang bekerja di pabrik.

Kondisi rumah makan Salsa (21/10/20). Foto dokumen penulis 

            Nasib serupa juga dialami oleh Rohmiati. Pemilik warung makan di Jl Gatak 1 ini, terpaksa menutup warung yang sudah didirikannya selama 10 tahun karena tidak ada pembeli. Mei 2020, Rohmiati berusaha melanjutkan bisnisnya, dengan cara pesan antar makanan. “warung saya tidak buka, tapi saya sering buat status di whatsapp, isinya ya menu seperti mie goreng, pecel lele, sop matahari, nasi goreng, teamlo”.  Karena keterbatasan finansial, semula warung makan ini memiliki 2 karyawan, tetapi di bulan Maret para karyawan ini terpaksa diberhentikan. Akhirnya para karyawan mencari pekerjaan lain, salah satunya ada yang beralih menjadi petani.

Warung makan Seleraku tutup saat pandemi. Foto dokumen penulis 

Sedikit berbeda dari Aseh dan Rohmiati, Warsilah memilih untuk tetap membuka warungnya meski pendapatannya menurun. Pemilik warung makan Po’we yang berada di Jl. Tanuragan ini, sudah berjualan lauk dan nasi sejak 2015. Alasannya untuk tetap membuka warung makan adalah ketiadaan mata pencaharian lain, di samping itu Warsilah juga harus membayar sewa warungnya sebesar 18 juta/tahun. Bahkan selama pandemi warung yang biasanya tutup sore  buka hingga malam hari.  Ya,  mau gimana lagi. Saya juga harus pintar putar uang. Ya penghasilannya hanya cukup untuk makan, cicil kontrakan, dan modal dagang lagi,” ungkap wanita berumur 50 tahun saat diwawancari di warungnya.  Agar dapat terus berjualan, Warsilah mengurangi dagangannya sesuai dengan modal yang ia miliki. “Saya harus cari sayur yang murah tapi bagus. Terus saya juga belinya di tempat yang murah dekat bandar asana. Kalau di pasar Kleco itu mahal.”

Wawancara pemilik warung makan Po’we yang sedang memasak (21/10/20). Foto dokumen penulis.

            Doni (22) Karyawan di Burjo Warmindo Ambucuy, mengaku gajinya tidak berkurang meski sedang pandemi. Warung makan yang berada di Jl. Beo Raya Timur masih tetap buka, tidak ada pengurangan menu namum setengah karyawannya di PHK. “Iya awalnya itu ada 8, pas pandemi secara bertahap pemilik warung  memecat 4 orang karyawannya,” ungkap pria muda berambut keriting itu (21/10/20). 

            Berbeda dari empat cerita di atas, warung OPJ tetap buka dengan menu yang sama banyaknya, bahkan pemilik warung mempertahankan dan menaikkan gaji karyawannya. “Karyawan saya tetap 6, sebenarnya bisa saja saya kurangi, tapi kasihan karena kan mereka juga butuh makan, ujar Bu Endang saat ditemui dikediamannya. Biasanya warung buka sampai pukul 14.00 WIB saat pandemi ini warung buka sampai pukul 21.00 WIB. Sistem kerjannya pun berbeda, saat ini karyawan bekerja dengan sistem shift. Tiga karyawan kerja pukul 06.00 – 14.00 WIB, 3 lainnya bekerja mulai pukul 14.00 – 21.00 WIB. Jika warung lain mengurangi gaji hingga memecat karywan pemilik warung ini justru menaikkan gaji karyawannya. Sebelum pandemi karyawan 5 ribu/jam sekarang mereka digaji 6 ribu/jam. Hal ini karena rasa kasihan pemiliknya.

            Meski berbeda kisah dan nasib, semua pemilik warung makan memiliki harapan yang sama terkait covid-19. Mereka berharap agar pandemi cepat usai dan semua kegiatan dapat berjalan normal. Dengan demikian, mereka juga dapat memiliki finansial yang cukup untuk terus melanjutkan hidup.



Alternatif Penjualan Warung Makan saat Pandemi

Sebelum pandemi, rasanya jualan makanan via online sudah hal yang biasa. Namun, baru-baru ini banyak pemilik warung makan yang awalnya hanya melayani jual beli langsung, ikut pula menjual dagangannya secara online, baik dengan sistem ojol (ojek online) atau pun DO (delivery order). Sejumlah warung makan ini di kawasan kampus 1 UMS pun banyak yang beralih menggunakan sistem online.

            Pendapatan melalui sistem ojek online juga tidak menentu. Seperti yang dialami Warsilah, pemilik warung makan Po’we. “orederan dari gojek pun tidak menentu. Sehari bisa Rp. 500.000 tapi kadang juga hanya dapat Rp. 50.000.” ungkapnya saat tengah mempersiapkan masakan untuk warungnya (21/10/20).

Pendapatan orderan ojek online ini, setidaknya mampu untuk membantu finansial dari warung makan tersebut. Pekerja warung makan lain, Doni (22), mengaku bahwa pendapatan saat pandemi ini bergantung pada pesanan ojol, “Selama pandemi warung mengandalkan pendapatan dari Go-food”. Meskipun demikian dirinya tetap bersyukur.  “Memang tidak banyak orderan seperti biasanya tetapi lumayan dari pada tidak ada pendapatan sama sekali,” ungkap laki-laki yang bekerja di Burjo Warmindo Ambucuy tersebut.

Senasib dengan Burjo Warmindo Ambucuy, warung makan OPJ yang berada di Jl. Beo Raya Timur, juga mengandalkan penjualan melalui ojek online, “Sebalum pandemi pun orderan dari Go-Food sangat ramai sekali,” kata Endang pemilik warung makan OPJ saat ditemui di kediamannya. Dia bercerita bahwa omset yang didapat tidak tentu bahkan turun drastis, sehingga saat pandemi seperti sekarang warungnya mengandalkan jasa ojek online.

Berbeda dengan tiga warung makan di atas, Aseh, pemilik warung makan Salsa, justru menutup total warungnya. Dia tidak mendaftarkan warung makannya di aplikasi ojek online. Bukan tanpa alasan, Aseh sempat meminta anaknya untuk mendaftarkan warungnya di Go-food, sayangnya, anaknya Aseh telat untuk mendaftar. “Mau bagaimana lagi, kalau dipikir-pikir pakai ojek online juga sepi soalnya mahasiswa juga belum balik ke kampus.” Ujar wanita 50 tahun tersebut.

Selain memanfaatkan ojek online dalam menjual daganganya, cara berbeda dilakukan oleh Rohmiati. Pemilik warung makan Seleraku ini, justur memanfaatkan whatsapp sebagai ajang mencari penghasilan. Dia menjajakan masakannya melalui status whatsapp, “Ya saya jual delivery order begitu, saya unggah foto masakan di status, kemudian kalau ada yang pesan, ya saya antar”. Cara ini sudah dilakukannya setelah lebaran idulfitri 2020, agar tetap mendapatkan penghasilan.


Infografis Pendapatan Warung Makan



Sederet Kisah PKKMB Daring, Mulai dari yang Ceria hingga Bikin Geleng-Geleng Kepala

 


Dahulu kita mengenal ospek sebagai ajang pengenalan kampus, namun beberapa tahun terakhir ospek berubah tajuk menjadi Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). PKKMB 2020, tentunya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Seremoni penyambutan para mahasiswa baru ini, tidak lagi dilakukan di lingkungan kampus secara riil, namun dilakukan secara daring. Tak lain dan tak bukan ini merupakan salah satu dampak dari Pandemi Covid-19, yang sayangnya harus dirasakan oleh para maba 2020.  Kendati demikian, euforia mahasiswa baru dalam merayakan keberhasilannya memasuki dunia perkuliahan, tidaklah surut. Euforia ini menimbulkan beragam cerita yang tak kalah unik dari PKKMB tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu kisah ceria dibagikan oleh Alifenda, mahasiswa  salah satu PTN di Yogyakarta, “Jujur, awalnya aku pikir PKKMBnya bakal dimarah-marahin gitu sama kating, tapi ternyata PKKMB di kampusku benar-benar di luar dugaan banget, maba disambut sebagai keluarga baru, acaranya keren banget, kakak pendampingnya juga super ramah,” ungkap maba jurusan Aktuaria tersebut. Sepertinya tiap kampus memiliki inovasi sendiri-sendiri dalam menyambut maba di era pandemi ini, ya.

Beda dengan Alifenda, kisah lain juga dialami oleh mahasiswa baru salah satu PTPN di Makasar, sebut saja Vanilla. Pada PKKMB di kampusnya, ada satu kegiatan yang membekas di hatinya, yaitu kegiatan sarapan online, “Jadi, sebelum mulai PKKMB, kita [maba] harus siapin sarapan, seperti susu, buah, vitamin, dll. Lucu saja gitu makan bersama tapi di rumah masing-masing, jadi makan di depan laptop  hahaha.” Mahasiswa Pariwisata itu juga menambahkan, ada beberapa oknum maba yang kelakuannya bikin geleng-geleng kepala. “Jadi saat pemateri lagi jelasin, ada insiden oknum maba itu corat-coret screen layar zoom melalui fitur pen, jadi ganggu gitu. Terus sampai sekarang gak ada yang tahu siapa pelaku insiden tersebut.”

Tak hanya sekadar pemberian materi, panitia PKKMB online juga memanfaatkan fenomena-fenomena yang sedang hits di kalangan remaja milenial, salah satunya adalah tiktok. Aplikasi yang biasanya digunakan oleh titokers untuk berjoget ini pun dijadikan sebuah inovasi oleh panitia PKKMB Universitas Telkom. Dihubungi via pesan langsung di  twitter (17/09/2020), salah seorang panitia mengatakan bahwa di hari terakhir PKKMB, satu kampus melakukan aksi tik-tokan­ secara daring. Ada beragam aksi unik mahasiswa baru yang membuat perut terkocok saat sesi tik-tokan ini, “Jadi hari terakhir ada sesi tik-tokan­, terus mabanya pakai kostum macem-macem, ada yang pakai topeng monyet, ada yang pakai jaket+helm ojol, ada yang pakai sarung mirip maling, terus cowo pakai mukena. Pokoknya ajaib banget deh kelakuannya.” Dia juga berbagi hasil tangkap layar dari sesi tik-tokan tersebut kepada saya.


Dokumentasi Narasumber

            

            

Dokumentasi Narasumber

Dibalik sederet kisah-kisah unik tersebut, tentunya ada suka duka yang dirasakan oleh para mahasiswa baru ini. Mereka cukup bersyukur meski di tengah pandemi, pengenalan kampus memang tetap harus berjalan. Saat ditanya mengenai suka duka, mereka mengatakan saat PKKMB online ini gak perlu panas-panasan dan tentunya tidak membuat fisik terlalu capek. Namun, sangat disayangkan para maba ini tidak bisa berkenalan dengan teman seangkatan secara tatap muka, sehingga mereka merasa PKKMBnya ‘gak berasa’, dan merasa masih asing dengan lingkungan kampus secara riil.


Penulis: Shindy Tresna Vinansih


Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19, Apa yang Berubah?



Covid-19 tak kunjung usai, jumlah kasus terinfeksi Covid-19 justru kian meningkat. Berbagai usaha meminimalisir penyebaran virus sudah dilaksanakan, mulai dari  sosialisasi dan penerapan protokol kesehatan, penyemprotan desinfektan hingga PSBB. Adanya usaha-usaha tersebut membawa harapan bagi masyarakat, agar pandemi ini selesai sebelum Bulan Ramadan. Namun harapan itu tampaknya hanya bisa sebatas angan-angan saja. Sebab ketika bulan Ramadan dan menejelang Hari Raya Idulfitri, keadaan belum juga membaik. Mau tidak mau, masyarakat harus tetap menjalankan puasa dan berlebaran di tengah pandemi ini. Pandemi ini, tentu saja membawa perubahan yan g cukup besar bagi kehidupan masyarakat. Tak terkecuali pada saat perayaan hari raya Idulfitri.

Banyak sekali perubahan yang dapat dirasakan saat perayaan Idulfitri 2020 ini. perubahan yang paling terasa adalah ketika pelaksanaan salat Idulfitri. Biasanya salat Idulfitri dilaksanakan berjamaah di masjid-masjid sekitar rumah, namun kali ini pelaksanaan salat Id sungguh berbeda. Ada dua cara pelaksanaan salat Id di tengah pandemi ini,  salat Id di rumah bersama keluarga atau salat di masjid seperti biasa namun harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Hal ini merupakan sesuatu yang baru. Salat Id di rumah dianjurkan oleh Kementerian Agama RI, guna antisipasi penyebaran virus Covid-19. Jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan salat Id, Majelis Ulama Indonesia telah menyebarkan tata cara pelaksanaan salat Id di rumah, hal ini dapat digunakan sebagai pedoman bagi masyarakat yang berkeinginan melaksanakan salat Id di rumah. Untuk masyarakat yang daerahnya diperbolehkan menggelar salat Id berjamaah di masjid, ada syarat yang harus dipenuhi. Di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, beberapa masjid yang menggelar salat Id mengharuskan jamaah menggunakan masker dan menjaga jarak satu sama lain. Biasanya jarak antara sajadah jamaah satu sama lain saling berdekatan, namun karena social distancing, sajadah, tempat salat jamah harus diberi jarak, seperti pada foto di bawah ini.

Social Distancing saat Salat Id

“Iya, saat sampai di masjid pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) langsung memperingati dan menertibkan jamaah untuk social distancing, kemudian banyak jamaah yang paiak masker juga.” Ujar seorang teman yang saat itu melaksanakan salat Id di masjid.

Sebagian besar masyarakat menggunakan masker saat Salat Id

        Selain itu, perubahan juga terasa pada kebiasaan hidup sebagian besar masyarakat. Masyarakat Indonesia identik dengan kebiasaan berkumpul. Biasanya orang-orang senang sekali berkumpul saat perayaan hari-hari besar, seperti hari raya Idulfitri. Salah satu tradisinya adalah mudik,yakni pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama sanak saudara. Namun, karena adanya penerapan PSBB di sejumlah kota-kota besar, tentunya membuat sebagian besar calon pemudik mengurungkan niatnya. 

Meskipun tidak dapat berkumpul secara tatap muka, silahturamhi saat lebaran merupakan tradisi yang tidak dapat dihilangkan. Banyaknya aplikasi yang mendukung komunikasi jarak jauh adalah hal yang patut disyukuri di tengah pandemi ini. Masyarakat yang tidak dapat mudik, bisa memanfaatkan aplikasi berbasis panggilan video seperti Whatsapp, Line, Zoom, atau aplikasi lain untuk tetap berkomunikasi secara daring dengan sanak saudara yang jauh.  
Perubahan-perubahan unik karena pandemi ini memang harus dikenang sebagai bahan renungan dan peningkat rasa syukur. Hingga selesai hari raya Idulfitri pun, kasus covid-19 ini belum juga berakhir, untuk itu mari kita taati terus protokol kesehatan agar pandemi ini segera berakhir.


Resensi Film 'Spotlight' Berdasarkan 10 Elemen Jurnalisme



RESENSI FILM


A.    Identitas Film
Judul                    : Spotlight
Genre                   : Biografi, Kriminal, Drama
Tayang                 : 3 September 2015
Durasi                   : 129 menit
Negara                  : Amerika Serikat
Bahasa                  : Inggris
Produser               : Blye Pagon Faust, Steve Golin, Nicole Rocklin, dan Michael   Sugar.
Sutradara              : Tom McCarthy
Penulis Naskah     : Josh Singer dan Tom McCarthy
Perusahaan           : Anonymous Content, First Look Media, Participant Media, Rocklin/Faust
       Pemain                 :
§  Michael Keaton sebagai Walter "Robby" Robinson
§  Liev Schreiber sebagai Marty Baron
§  Brian d’Arcy J. Sebagai Matty Carroll
§  Dll.
(Dikutip dari Wikipedia)
B.     Sinopsis Film
Spotlight merupakan film yang diadaptasi dari kisah nyata kasus pelecehan seksual beberapa pastor katolik terhadap anak-anak. Spotlight sendiri merupakan sebuah tim jurnalis investigasi yang berasal dari The Boston Globe, perusahaan koran di Boston, Amerika Serikat. Tim Spotlight sudah berdiri sejak 1970. Tahun 2001, Spotlight beranggotakan 6 jurnalis, yakni Walter "Robby" Robinson sebagai editor dan Michael Rezendesi, , Sacha Pfeiffer, dan Matty Carroll, sebagai reporter.
Permasalahan muncul ketika editor baru The Boston Globe yaitu Marty Baron menginginkan koran The Boston Global berperan penting bagi pembacanya. Tim Spotlight  ditugaskan melakukan investigasi lanjutan terhadap John Geoghan, pastor terduga pencabulan di Boston. Geoghan diduga telah melakukan aksinya bertahun-tahun. Korbannya bahkan mencapai 80 orang, namun kasusnya belum terungkap. Banyak korban yang dibungkam oleh pihak gereja. Aparatur penegak hukum pun tidak bisa berbuat banyak.
Keinginan Baron melanjutkan kasus ini banyak mendapat pertentangan, terutama dari sesama jurnalis. Mereka berpendapat akan sulit menuntut lembaga paling sakral tersebut. Terlebih mayoritas penduduk Boston sangat mempercayai gereja sebagai suatu tempat yang penuh kebaikan. Namun, Baron beserta Tim Spotlight tetap mencari kebenaran dalam kasus ini.
Tim Spotlight mulai bekerja, mereka pun mendatangi orang-orang yang terkait dengan kasus ini. Korban pertama yang diwawancarai, Phil Saviano menuturkan setidaknya ada 13 pastor yang melakukan pelecehan seksual di Boston. Kasus ini pun meluas. Tim Spotlight menginvestigasi kasus 13 pastor ini. Tambahan informasi didapat pula dari  Richard Sipe, pekerja di pusat rehabilitasi gereja. Dari hasil penelitian Richard, target para pastor yaitu anak dari keluarga miskin, tidak mempunyai ayah, dan memilki watak pemalu. Richard juga menuturkan kemumungkinan ada 90 pastor yang terlibat dalam kasus ini. Setelah melakukan pengecekkan, spotlight menemukan 87 pastor dari data yang valid. Hal ini membuat Tim Spotlight terkejut.

C.    Analisis Film
1.    Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran. Dalam film ini Baron meminta Tim Spotlight melanjutkan penyelidikan mengenai pastor Geoghan, terduga melakukan pelecehan seksual. sudah bertahun-tahun kasus ini seakan dibungkam. Mereka mencari dokumen-dokumen yang ditimbun, mewawancarai para korban, dan mencari bukti-bukti valid lainnya.
2.   Loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga negara. Dalam film ini, Tim Spotlight dengan gigih mengungkap kasus tersebut. Meski pun mendapat banyak pertentangan dari pengacara, rekan jurnalis, maupun kardinal gereja, mereka tetap berpihak kepada korban. Tim Spotlight ingin agar masyarakat mengetahui kebenaran yang terjadi pada saat itu di Boston.
3.   Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Dalam film ini, jurnalis Spotlight mencari para korban sebagai saksi kasus ini. Selain itu Spotlight membuka sebanyak mungkin sumber berita, mulai dari koran yang menerbitkan berita kasus serupa, mengecek identitas pastor yang dicurigai, dan mendatangi orang-orang yang berkaitan dengan kasus ini. Selain itu pada akhir cerita, Robby selaku editor Spotlight meminta Kardinal Law untuk memverifikasi tuduhan itu. Kemudian Tim Spotlight dapat memberitakan kasus ini sesuai dengan apa yang terjadi.
4. Jurnalis harus menjaga independen dari objek liputannya. Dalam Film Spotlight ini menjelaskan bahwa seorang jurnalistik dan media massa harus merdeka dan independen tidak terpengaruh oleh kepentingan apapun dan pihak mana pun. Ketika Robby (Tim Spotlight), dapat hasutan dari temannya untuk damai terhadap gereja. Namun Robby tetap teguh pendirian sehingga tidak mudah terhasut, menurutnya permasalahan ini harus diketahui publik.
5. Jurnalis harus melayani sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan. Spotlight mengawasi pastor dan gereja  meskipun mereka representasi dari suatu lembaga yang kuat. Dalam film ini juga terlihat, bagaimana 5 jurnalis ikut memperjuangkan suara-suara korban yang dulu sempat dibungkam oleh pihak gereja. Kelima jurnalis ini menyuarakan dan melaksanakan keinginan para korban agar para pelaku dapat dihukum.
6.    Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk kritik mau pun dukungan warga. Pada akhir cerita, mereka mencantumkan nomor telepon Spotlight dalam artikel Koran tersebut agar orang lain dapat menghubungi mereka dan memberikan feedback atau komentar langsung pada kantor Tim Spotlight.. Hal ini menunjukkan bahwa spotlight memberikan forum bagi publik untuk memantau dan menyampaikan ide mengenai kasus ini. Selain itu, ada adegan saat spotlight memberikan ruang pendapat bagi Kardinal Law, namun Law menolak.
7.  Jurnalis berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan. Spotlight mampu mengangkat kembali kasus lama yang belum selesai sehingga menimbulkan ketertarikan bagi pembacanya. Selain pemilihan kalimat untuk digunakan sebagai headline yaitu  “Church Allowed Abuse by Priest for Years”. Kalimat ini mampu menarik ketertarikan para pembaca.
8.  Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional. Jurnalis tidak hanya membuat berita yang sensasional, namun juga memberikan panduan bagi para pembacanya mengenaik kasus yang ada. Ini relevan dengan Tim Spotlight yang tidak hanya memuat berita tentang pelecehan seksual  oleh para pastor dengan headline yang sensasional tetapi mereka juga memuat cerita-cerita pengakuan para korban sebagai cermin harapan para korban untuk bisa didengarkan dan mendapat keadilan.
9.    Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya. Elemen ini tercermin saat Ben, deputi editor yang sempat menentang keinginan Baron untuk melakukan investigasi terhadap kasus ini. Namun akhirnya Ben tetap mengikuti hati nuraninya, bahwa kebenaran harus terungkap. Selain itu, elemen ini juga terdapat dalam adegan Michael yang tergesa ingin segera menerbitkan berita ini ketika bukti sudah terkumpul.
10. Warga juga memiliki hak dan tanggung jawab dalam hal-hal yang terkait dengan berita. Dalam film ini, fokusnya hanya tertuju pada Tim Spotlight, sehingga elemen kesepuluh ini tidak tampak dalam film tersebut.